Persoalan akibat Permen

IstimewaPersoalan akibat Permen

Tahun 2017 sudah hampir melewati triwulan pertama. Sudah hampir pertengahan bulan Maret ini, muncul keinginan mengarang lagi di blog dansa ini. Mari berdansa dengan kata dan imajinasi yang menjadi imbas dari realita (#$&($&_;’!)

Kali ini saya membahas persoalan akibat permen. Eit, ngapain?

Persoalan apa yang bisa muncul karena permen? Paling-paling, kalau terlalu banyak makan permen bisa batuk. Bisa-bisa tenggorokan kering atau gatal.

Memang masalah itu yang terjadi. Ada anak yang mengaku begitu. Lalu beredar kabar semakin luas, permen-permen berbentuk lucu itu bisa menyebabkan batuk karena mengandung bahan berbahaya. Ada narkobanya. Dugaan ini dikaitkan dengan asal permen itu. Yakni dari negara Cani, negerinya Panda.

Hembusan kabar yang paling dahsyat bahwa permen itu mengandung narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba), menyebar sampai ke telinga para ibu yang biasa mengantar anak mereka ke sekolah. Sekali waktu membelikan anaknya jajanan di sekitar sekolahan.

Ada seorang ibu di Kota Saburaya yang semakin yakin mengenai kabar ini ketika pada suatu sore saat mengulek sambal dari cabai yang hanya lima lencer, melihat sendiri penyitaan permen-permen ini oleh petugas pemerintah kota di televisi.

Anaknya yang baru pulang sekolah langsung dapat petuah-petuah dan larangan: jangan lagi beli permen di depan sekolah! Anak itu bertanya, kenapa? Ibunya menjawab ada narkobanya.

Pedagang di lingkungan sekolah-sekolah dasar ketakutan, saat beberapa petugas berseragam cokelat mendatangi kios-kios mereka. Menyita permen, yang mereka sendiri tidak tahu, kalau ternyata ada narkobanya.

Guru-guru yang melihat peristiwa penyitaan permen itu menyisipkan kalimat saat mengajar di dalam kelas: jangan membeli permen dulu ya. Enggak apa-apa beli es, tapi jangan banyak-banyak, ya?

Pedagang penjual permen yang baru mengkulak barang dagangan seminggu sebelumnya harus gigit jari. Bukan hanya karena permen yang disita, tapi karena setelah hari itu, permen lain yang tidak turut disita tidak laku terjual.

Padahal, hasil penjualan permen-permen yang tadinya lumayan laris berkontribusi cukup besar agar keluarganya tetap bisa membeli kebutuhan makan. Termasuk cabai yang harganya sedang melangit.

Karena tanpa cabai, tak selera dia makan di rumah. Istrinya marah-marah karena selera makannya turun. Katanya, sudah tidak suka, ya, sama masakan istri sendiri? Sudah tidak cinta sama istrimu ini?

Aduh, kata pedagang malang itu dalam hati, dia berada pada situasi seperti sinetron. Karena sejak harga cabai meroket, si istri yang mungkin stres, menghabiskan lebih banyak waktu menonton sinetron agar terhibur.

Warga Kota Saburaya sudah kadung waspada keberadaan permen yang bentuknya seperti dot bayi, dengan cara makan yang unik: harus dicampur air sebelum dimakan supaya bubuk-bubuk itu mengeras.

Satuan Pengasuh Kota Saburaya gencar-gencaran memeriksa, menyita, lalu menginformasikan hasil razia permen ini kepada para pencari berita, yang lantas memuatnya serampangan dengan semangat kejar tayang.

Mereka juga mengajak pegawai kecamatan mengikuti langkah yang sama. Amankan semua permen itu! Kita lindungi anak-anak di Kota Saburaya dari bahaya narkoba! Kata kepala satuan itu.

Lantas, hanya sebagian saja dari permen-permen hasil sitaan yang diuji laboratorium. Padahal jumlah yang tersita mungkin sudah ribuan, karena razia itu sudah digelar di berbagai kecamatan.

Barangkali saat itu, telah semakin banyak pula pedagang permen yang kena marah istrinya. Bukan hanya karena selera makan, tapi karena pulang tak membawa uang. Namun, roda terus berputar. Kalau berhenti, berarti ada yang menginjak pedal rem. Eh…

Beberapa hari kemudian, pengujian tuntas. Petugas laboratorium menegaskan, tidak terbukti ada kandungan narkoba di dalam permen-permen hasil sitaan itu. Ini aman, yang tidak aman hanya kemasannya, bila turut termakan.

Permen-permen yang sudah disita lalu bagaimana? Ya kami kembalikan kepada para pemiliknya. Gampang kan? Jangan dibikin susah. Kata rata-rata pejabat pemerintah kota Saburaya, termasuk Kepala Satuan Pengasuh Kota.

Para pedagang yakin-yakin saja, suatu saat permen ini akan kembali dibeli anak-anak. Yang penting roda terus berputar, jangan sampai ada yang menginjak rem.

Tapi para ibu-ibu yang sudah kadung protektif atas anak-anaknya, tidak semudah itu mengizinkan lagi atau bahkan membelikan anak mereka permen itu.

Karena di dalam benak para ibu yang sangat mencintai anak-anaknya, masih ada kata jangan-jangan (jangan-jangan alat ujinya rusak. Jangan-jangan petugas laboratoriumnya mengantuk).

Para ibu saat ini, mungkin lebih percaya kepada Doni yang masih mencintai Nabila, dan tidak akan menduakannya lagi dengan perempuan lainnya, yang akan terjadi pada episode berikutnya.

***

Whuusss… Adegan dengan cepat mundur ke belakang, terus ke awal mula tulisan ini, bahwa kabar permen berbentuk lucu mengandung narkoba itu menyebar luas sampai ke telinga para ibu.

Apa buktinya? Buktinya, Satuan Pengasuh Kota turun ke lapangan menyita permen-permen ini dari para pedagang, sebagai antisipasi agar permen ini tidak dikonsumsi anak-anak.

Maksudnya, apa bukti bahwa permen itu mengandung narkoba? Tindakan penyitaan permen oleh petugas, kan, seharusnya, merupakan respons dari adanya bukti-bukti yang telah ditemukan.

Oh, ya kalau itu, tentu saja buktinya dari hasil uji laboratorium. Seperti yang dikatakan Ibu Wali Kota Saburaya kemarin, kan. Nanti pasti akan diumumkan hasilnya.

Satuan Pengasuh Kota menambahkan jawaban, bahwa mereka bertindak atas nama naluri melindungi generasi muda dari bahaya narkoba.

Oh, betul itu, betul. Memang perlu dilakukan, itu. Eh, tapi siapa yang melindungi para pedagang yang dimarahi istrinya dengan kekerasan dramatikal (sesuai pengalaman dramatik) seperti itu?

Sebetulnya, menurut analisis imajiner, ada permasalahan lain berkaitan permen yang lebih urgen untuk ditangani oleh pemerintah.

Ada permen (peraturan menteri) tentang penataan toko-toko modern agar tidak menggilas toko-toko konservatif di Indanisua. Di Kota Saburaya, aturan ini juga sudah turun menjadi aturan daerah.

Lalu, lembaga terkait perdagangan di Saburaya menemukan ada beberapa toko modern yang perlu ditertibkan karena tidak segera memenuhi izin, meski sudah diperingatkan sampai tiga kali.

Lembaga perdagangan itu pun meminta bantuan Satuan Pengasuh Kota Saburaya agar segera menertibkan toko modern-toko modern itu.

Mungkin karena lupa, permintaan dari Lembaga Perdagangan Kota Saburaya sejak dua bulan sebelumnya ini tak juga dilakukan.

Artinya, sudah dua bulan Satuan Pengasuh Kota menunda penertiban toko modern itu dan memilih merazia permen diduga narkoba yang belum diuji laboratorium.

Ya, ya, memang perlindungan bagi generasi muda harus lebih utama. Merekalah penerus Kota Saburaya. Sehingga kelak ketika mereka dewasa, sudah ada model yang bisa mereka tiru.

Kelak, salah satu dari mereka ketika sudah bekerja dan berhasil menjadi bos di sebuah perusahaan, atau menjadi pemimpin kota, secara tiba-tiba memecat anak buahnya karena alasan yang belum jelas kebenarannya.

Ketika pada akhirnya ada yang memberanikan diri bertanya, kenapa si bos memecat anak buahnya itu, dia berkata, karena ada kabar bahwa dia itu melakukan korupsi. Kalau saya tidak bertindak, dia akan melakukan korupsi yang lebih besar. Mulai sekarang, saya perintahkan agar segera ada audit.

Daging, Para Algojo, dan Sang Maestro

IstimewaDaging, Para Algojo, dan Sang Maestro

Kau mungkin masih ingat soal daging potong jadi-jadian, setengah sapi setengah celeng. Daging ini ada di salah satu pasar di Kota Saburaya beberapa bulan lalu. Menyebar ke berbagai pasar hingga ke kota sebelah.

Sekarang muncul lagi. Beberapa kali. Daging potong jadi-jadian bikin geger warga yang haram bagi mereka makan daging celeng. Mereka minta daging sapi. Murni. Asli. Bukan jadi-jadian.

Tapi harga daging sedang menjadi pertimbangan dompet-dompet yang kering. Mahal. Abang tukang bakso menjerit. Daging jadi-jadian masuk dalam daftar harga daging pilihan di buku catatan si Abang.

Presiden Indanisua turun tangan. Katanya, harga daging harus turun seharga sekitar delapan kilo beras. Tapi harga beras juga naik. Harga-harga barang lain juga sedang naik. Presiden pun mengeluarkan ancaman.

Kalau tidak turun, saya datangkan daging dari luar negeri. Kata Presiden. Dia tidak menyebutkan dari negeri mana. Pokoknya dari luar negeri, bukan dari luar angkasa. Mengingat, di banyak film bertema luar angkasa, tidak ditampilkan ada peternakan sapi.

Wali Kota Saburaya berinisiatif menanam modal di sebuah peternakan sapi di Kabupaten sebelah. Di salah satu daerah di kepulauan Mudara. Entah berapa banyak sapi yang dipelihara di sana.

Wali kota berjanji, setiap harga mulai menunjukkan gelagat akan naik, 25 sapi dipotong. Ini beneran! Bukan bebek atau angsa. Katanya. Supaya daging sapi pedagang punya saingan. Supaya harga daging di pasar turun.

Nah, kalau pedagang bersatu dan membeli sapi murah milik wali kota terus dijual lagi? Sulit sekali mengawasi. Sia-sia sudah daya dan upaya. Apalagi, tenaga pengawas bawahan wali kota terbilang kurang.

Misalnya untuk mengawasi daging jadi-jadian di pasar-pasar kecil. Katanya, pencampuran sudah tidak lagi dilakukan di pasar besar. Yang kecil-kecil saja, supaya tidak ketahuan.

Memang bisa apa. Sekelas Presiden Indanisua saja tidak bisa menurunkan harga sapi. Karena tidak semudah menurunkan bendera saat upacara kenegaraan, katanya. Padahal bukan dia yang menurunkan bendera.

Ssst, jangan singgung soal nilai si Rapiah, mata uang Indanisua ya. Nanti presiden bisa marah.

rapat-algojo-di-restoran-tertinggiDi balik persoalan harga daging sapi yang tinggi, ada beberapa orang yang menggelar rapat tertutup di sebuah gedung yang menjulang tinggi di luar Indanisua. Masih di dunia. Bukan di luar angkasa.

Mereka yang hanya beberapa ini, berbicara dengan nada bersahaja. Satu per satu menyampaikan pendapatnya. Sangat teratur. Sangat terpola. Sopan dan elegan.

Satu diantara mereka tampak menggunakan pin bendera Indanisua di bagian dada jasnya. Sepatunya bermerk nama sebuah gang yang pernah sangat terkenal di era jayanya prostitusi di Indanisua. Sepatu itu berasal dari sebuah gang di Saburaya.

Pria itu mendengarkan pendapat rekan-rekannya yang lain dengan seksama. Mereka sedang membicarakan sebuah rencana untuk mengontrol pasar daging multinasional.

Pria yang memakai pin Indanisua akhirnya menyatakan pendapatnya. Katanya, harga daging di Indanisua sudah kondusif.

“Saya pastikan,” katanya. “Presiden Indanisua dalam waktu dekat mengambil keputusan untuk mengimpor sejumlah sapi dari negeri Asutralila.”

Seorang perempuan bermata biru berambut pirang dengan codet di pipinya manggut-manggut. Wajahnya yang seram bikin siapa saja pasti bergidik. Perempuan itu berasal dari Asutralila.

“Kamu yakin, bisa begitu? Tidak ada wali kota lain seperti di Saburaya yang bisa mempengaruhi kebijakan Presiden?”

“Tidak. Karena sapi milik wali kota sudah saya beli seluruhnya. Demikian juga sapi di daerah lainnya. Aman. Semua aman. Sudah dalam kendali.

“Setelah Asutralila, Presiden juga akan mendatangkan beras dari Indus. Sudah siap, kan?”

Pria gundul dengan tanda merah di dahinya, di seberang meja, memanggutkan kepala dengan pasti. Wajahnya tak kalah seram dengan perempuan dari Asutralila.

Pelayan menuangkan anggur ke gelas masing-masing. Pelayan baru di restoran itu. Dia menumpahkan minuman di jas pria asal Indanisua lalu bergegas mengambil celemek untuk mengelap jas pria itu.

“Maafkan saya, maaf.” Ujar pelayan sembari mengelapkan celemek pada bagian yang basah. Pria itu memaklumi, lalu menampik tangan pelayan yang masih merasa bersalah dan berusaha terus mengelapkan celemek ke jasnya.

Tidak lama kemudian, rapat itu selesai. Orang-orang yang merupakan delegasi dari masing-masing negara ini mengemban tugas di masing-masing negara dari seorang bos besar, triliuner anonim yang biasa disebut Sang Maestro.

Sedangkan mereka disebut algojo. Karena tugas mereka mengeksekusi rencana-rencana baik berupa isu, peristiwa buatan, maupun berita yang dapat mempengaruhi harga daging di masing-masing negara mereka.

Pertemuan mereka dalam pengawasan langsung. Kamera CCTV di sudut-sudut restoran menayangkan citra di restoran itu secara langsung di sebuah monitor raksasa di ruangan Sang Maestro.

Pria dengan pin bendera Indanisua di jasnya, keluar dari restoran. Dia menunggu petugas vallet mobil di depan pintu lobby. Merokok. Memainkan asap dengan mulutnya. Bikin O yang banyak.

Mobil mewahnya tiba. Petugas menyerahkan kunci. Dia membuka pintu, masuk mobil, lalu Blar! Kepingan-kepingan mobil berserak. Ledakan menghancurkan kaca pintu lobby dan kaca di beberapa lantai di gedung itu. Pin di dada pria itu hangus tapi tak hancur.

sang-maestro“Itu akibatnya kalau kalian bermain terlalu serakah. Sok nasionalis pula,” gumam Sang Maestro menyaksikan asap yang membubung tinggi dan mobil yang terbakar di layar televisinya.

Adegan kembali pada pelayan baru yang menumpahkan minuman ke jas pria yang menyematkan pin bendera Indanisua di jasnya. Sambil mengelap celemek, pelayan itu menempelkan benda kecil semacam magnet.

Magnet ini yang memicu bom yang sengaja dipasang oleh seorang pria petugas Vallet baru di gedung itu. Keduanya adalah orang suruhan. Dua algojo yang sedang bertugas untuk mengeksekusi algojo.

Malam itu juga, pascaledakan yang menghebohkan, daging sapi dari Asutralila dikemas dan dikirim ke Indanisua. Paginya, presiden Indanisua memutuskan agar para importir membuka keran daging sapi dari luar negeri. Tidak lama kemudian, ribuan ton daging sapi tiba di banyak daerah, termasuk di Saburaya.

Sementara, rumah potong hewan di Saburaya yang sejak beberapa waktu lalu sibuk beraktivitas memotong sapi mendadak hening. Daging sudah terlalu melimpah di pasaran, tidak ada pesanan pemotongan sapi.

Harga daging turun. Tapi kebutuhan pokok lain tetap tinggi. Giliran gula, beras, dan tepung, harganya hampir tidak terbeli.

Surat kabar memuat, banyak peternak sapi di desa-desa memotong sapi ternak mereka sendiri dan berkomitmen mengkonsumsi dagingnya setiap hari. Tanpa beras dan tanpa gula. Sebagai protes kepada pemerintah.

Sang Maestro tidak tertawa. Dia memang sulit tertawa bahkan oleh candaan yang menurut orang lain sangat lucu. Telepon genggamnya berdering. “Dia ingin berbicara dengan Anda,” ujar suara di seberang sana. “Sambungkan.” Telepon ditutup, tak berselang lama berbunyi kembali.

“Selamat malam Pak Presiden. Senang bisa berbincang kembali dengan Anda.”

Lengserkan Mantan dari Jabatannya, Supaya Kamu Move On

IstimewaLengserkan Mantan dari Jabatannya, Supaya Kamu Move On

Mantan dalam penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata sifat yang bermakna bekas pemangku jabatan (kedudukan).

Dulu, kata ini merujuk pada pejabat yang lengser dari kedudukannya. Misalnya mantan presiden, mantan perdana menteri, atau mantan bupati.

Sekarang, “mantan” merujuk pada orang yang membuatmu menangis karena kenangan manis atau pahit, dalam kisah percintaanmu yang gagal.

Dia meninggalkan kenangan tentang caranya memotong kuku yang unik. Dia pernah memperlakukan kukumu dengan cara itu.

Dia gigit ujung salah satu kukumu, kemudian merobeknya perlahan-lahan. “Gimana, lebih gampang, kan? Aku suka. Rasanya enak. Enak, kan?”

Ekspresinya saat itu, bagaimana bisa kamu membantahnya; senyumannya; aroma tubuhnya; detil wajahnya yang tersaput temaram rembulan; membuatmu semakin sulit move on, sekarang.

Kecerdikannya. Kau tak akan melupakan caranya mencuci tangan, usai makan nasi sambal bersamamu. “Pakai tissue-nya, biar minyaknya hilang. Terus, bilas pakai air kobokan,” katanya. Sampai sekarang, cara itu masih kamu gunakan saat makan nasi sambal sendirian.

Dia juga meninggalkan jejak pada hal-hal yang kamu sukai. Naik skuter butut kesayanganmu, kamu pernah mengarungi tempat-tempat romantis bersamanya.

Maka setiap kali kamu bepergian dengan skutermu, kamu merasa dia sedang membonceng di belakangmu. Memelukmu mesra, seolah tak akan melepaskanmu lagi. Sampai akhirnya kamu sadari, hanya ada dirimu seorang di atas skutermu.

Semoga saja, memang kenangan yang membuatmu merasa demikian. Karena bisa saja yang sedang kamu bonceng nonik-nonik yang sering berkeliaran di makam Belanda.

Pada dasarnya, kenangan manis yang berakhir pahit, menurut para peneliti, lebih susah terlupakan daripada kenangan pahit yang berakhir manis.

Kedudukan mantan, saat kamu mengenangnya, tak akan tergantikan oleh orang lain. Padahal, seperti yang kukatakan, mantan merujuk pada seseorang yang telah lengser dari jabatan.

menyesalGagal move on, berarti, kamu telah memberikan jabatan baru kepada “mantan”. Kamu berikan kedudukan kepadanya sebagai penguasa kenangan.

Setiap kali kumpulan kenangan itu menyeruak, kamu relakan dirimu pasrah di bawah kontrol kekuasaannya. Tak berkutik. Tak berdaya. Tenggelam dalam penyesalan.

“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” Rintihmu di malam-malam hening tanpa teman. Saat terngiang dia yang pernah rela meneleponmu, untuk menemani waktu insomniamu.

Lihatlah sisi baik dari kondisimu sekarang. Di malam-malam seperti itu, kalau bukan dia, kamu yang akan meneleponnya. Sekarang, kamu tak perlu meneleponnya. Sehingga awet pulsamu.

Aku tahu, ini bukan soal pulsa. Tapi kalau kamu tetap tenggelam dalam penyesalan, seumur hidup kamu akan seperti itu. Sesuatu yang pahit, sesuatu yang sakit, harus dialami agar seseorang tahu merasakan manis dan mengenali bahagia.

Kamu harus mengambil hikmah. Lengserkan dia dari jabatan “mantan”. Jangan biarkan dia menjadi penguasa kenangan. Bukalah ruang kenangan baru, agar orang lain bisa masuk ke dalamnya.

Aku tak akan mengatakan, bahwa kamu akan segera melupakannya. Sampai kini, aku pun sulit melupakanmu, kalau saja aku tidak mendepakmu dari kedudukan sebagai mantan terindah dalam hidupku.

Lengserkan dia dari jabatan yang kamu berikan, supaya kamu move on. Siapa tahu, aku bisa kembali mendapat ruang di hatimu.

*tulisan ini termotivasi lomba menulis bertema mantan dan move on

Mengabadikan Dia

IstimewaMengabadikan Dia

Barangkali kau menyukai cerita-cerita cinta. Ini ada kisah yang gagal terpilih dalam sebuah kompetisi menulis cerita cinta. Aku akan mengingatkanmu tentang kegagalanmu meraih cinta, dan bagaimana kau memaknainya.

Setelah berulangkali kau katakan hal itu kepadanya, perlahan-lahan tubuhmu turut menghilang. Asa di hatimu nyaris lenyap. Tak kausangka, tiga tahun tak cukup membuatnya percaya, hanya dirinya saja yang kaucinta.

Entah sudah berapa kali kau siapkan hati untuk kecewa. Berbagai cara kau lakukan untuk menyentuh hatinya. Tapi menyentuh hati wanita, tak semudah menyanyikan lagu Ari Lasso.

Cintamu seperti tangan menepuk angin. Pupus, seperti lagu Dewa di album Bintang Lima.

Tiga tahun ditolak wanita yang sama, kata teman-temanmu yang kelewat tega, “kasihan, deh lu.” Tapi mereka tidak bermaksud demikian. Mereka bermaksud membuatmu tegar menghadapi kenyataan.

Malam itu, ketika kilap dari rambutnya, pantulan cahaya dari lampu kota, tampak semakin redup dan jauh, saat itu pula dirimu semakin hilang. Perlahan-lahan. Seiring langkahnya yang semakin tak terdengar. Seiring hilangnya asa di hatimu.

“Berapa kali pun kamu menyatakan ini kepadaku, aku tetap menganggapmu teman. Aku harap kau mengerti.” Itulah kata terakhir sebelum dia memunggungimu. Pergi untuk kesekian kali.

Matamu tetap melihat senyumnya. Lesung pipit di pipi kanannya. Bibir tipis yang mengembang. Jajaran gigi kecil dengan putih yang sempurna.

merenungBenakmu tetap terbayang wajahnya. Wajah bulat dengan belahan dagu tipis. Hidung mancung dan mata bulat besar, beralis tebal. Kau jatuh cinta untuk kesekian kali kepadanya.

Sebenarnya, kau tak mampu menggambarkan wajahnya dengan kata-kata. Hanya saja, kalau terpaksa harus kau tulis dia, maka kau tuliskan deskripsi sosoknya dengan pilihan kata terbaik.

Warna tanganmu makin remang-remang. Cahaya lampu taman menembus pori-pori lenganmu. Tentu kau tak bisa memegang pulpen saat ini. Sebab, lengan kursi taman saja, tak mampu kaupegang. Maka kau tidak mungkin menulisnya saat ini.

Kau masih melihat dirinya dalam potongan-potongan memori. Kenangan itu jumpalitan di kepalamu. Sepotong ruang di kotamu, kini sedang berputar-putar. Pening kepalamu seolah segera meledakkan salah satu bagian tubuhmu, kemudian bagian lainnya.

Sekarang kau tak bisa merasakan kakimu memijak tanah. Sepatumu tertinggal. Saat kau benar-benar lenyap, dunia di sekelilingmu mendadak gelap. Gadis pujaanmu mendadak sirna dari pandangan matamu. Semuanya hening, semuanya kelam.

Cahaya remang menyorot dari sudut atas mata kirimu. Seorang pria menepuk-nepuk pipimu. “Hei, hei,” tamparannya semakin keras. Cahaya temaram akhirnya bisa mengantarkan sosoknya ke matamu.

Pria itu berkostum lucu. Seperti kostum raja-raja eropa zaman dahulu. Kerah bajunya putih lebar, dengan syal merah melilit lehernya. Kedua pipinya bercambang pirang seperti warna rambutnya yang ikal.

“Bangun! Bioskopnya sudah tutup.”
“Hah? Kamu tukang putar film?” Tanyamu.
“Ngawur! Aku tukang leding,” ujar pria itu mencoba melucu. “Kau sedang tidak menonton film,” ujarnya membuatmu semakin bingung.

“Lalu kamu siapa?”
“Aku adalah kamu di masa lalu. Tidak, tidak. Aku cuma bercanda. Namaku Ludwig. Aku di sini untuk menceritakan sesuatu kepadamu,” ujarnya dengan senyum.

Telingamu mendengar musik piano klasik yang merdu. Sebuah simfoni yang indah. Mendayu-dayu mengiringi kisah yang akan dia ceritakan. Harmoni piano tunggal di telingamu ini tak asing.

“Judulnya Moonlight Sonata,” kata pria yang sudah berjalan mondar-mandir dengan sikap kikuk di hadapanmu. Kau masih tak merasakan tubuhmu. Tapi kau bisa melihat kakimu yang berpijak tegap di lantai transparan.

“Aku membuatnya untuk Giulietta. Aku mengaguminya sejak awal kami bertemu. Dia pun, kukira, juga mengagumiku. Karena sikap dan bahasa tubuhnya demikian. Tapi aku tak pernah mendengarnya berbicara. Dulu, aku memang tak mampu mendengar siapapun berbicara. Kami saling mengerti dengan bahasa isyarat.”

“Baik. Jadi kau bukan orang sini?” Tanyamu. Tapi kemudian kau ragu, entah di mana kau dan dia berada, saat ini. “Maksudku, bukan dari kota tempatku berasal?”

“Tak penting dari mana aku berasal. Tak penting dari mana kau berasal. Kita sedang tidak berada di mana-mana.”

my-immortal-belovedSebuah citra seorang perempuan dengan rambut pirang tergerai perlahan-lahan menerangi ruangan itu. Citra itu semakin jelas menunjukkan detil wajah perempuan itu.

“Dialah Giulietta.” Ludwig meneruskan kisahnya. Dia selalu menantikan setiap pertemuan dengan perempuan pujaannya itu. Pertemuan demi pertemuan, menyempurnakan simfoni Moonlight Sonata.

Sonata indah itu untuk menyatakan cintanya kepada Giulietta. Ludwig menduga, pesan itu telah sampai kepada gadis pujaannya. Karena gadis itulah yang mendengar simfoni itu untuk pertama kalinya.

Tapi kenyataan seringkali tak semanis harapan. Nadanya getir ketika menyatakan keikhlasan, saat Giulietta akhirnya lebih memilih Gallenberg, rekan musisinya yang telah mapan. Mereka akhirnya menikah.

“Aku tak menyesal. Sudah kulakukan sesuatu untuk mengabadikan cintaku kepadanya,” kata Ludwig kepadamu.

Pria malang itu mengakui, dia telah banyak mendedikasikan komposisi musik ciptaannya kepada beberapa perempuan yang datang ke dalam hidupnya setelah Giulietta.

“Aku tak menyesal. Aku memang tak pernah beruntung dalam percintaan, tapi aku punya banyak cinta untuk kubagikan. Kau pun juga. Jadi jangan berhenti di sini, kawan. Sampai jumpa,” kata Ludwig menepuk pundakmu, kemudian pergi.

Kepergian Ludwig mengembalikan dirimu terkulai di bangku taman. Musik telah berhenti, citra perempuan itu telah hilang. Semua berganti malam di antara pepohonan.

Di sekelilingmu, banyak pasangan memadu kasih. Duduk di amfiteater taman. Bercengkrama menikmati malam dengan lampu-lampu temaram. Taman yang sama tempat gadis itu meninggalkanmu dalam kekecewaan.

Kau tak boleh menyesal. Kalimat yang diwariskan Ludwig kepadamu, membuatmu terburu-buru merogoh sesuatu di tas selempangmu. Sebuah notes dan pulpen. Mulai detik itu, kau akan mengabadikan cintamu dalam banyak kertas dan media menulis lainnya.

Sebuah tulisan tentang dirinya tuntas malam itu juga. Kaurogoh lagi tas selempangmu, smartphone kini menyibukkanmu.

Kau tergelitik mencari Moonlight Sonata. Kau temukan siapa Ludwig yang memang, seperti yang kau duga, tak pernah asing bagimu. Dialah komponis legendaris, yang ternyata memiliki kisah cinta lebih tragis dari kisahmu.

Kenapa hanya tiga tahun. Puluhan tahun lagi mempertahankan cintamu kepadanya, asalkan dia tetap bahagia, kau tak akan menyesal. Lalu kau awali setiap tulisan untuk mengabadikan cintamu itu dengan kalimat: dear my immortal beloved.

Pesta Pora Tentara Langit yang Bikin Basah dan Berkuasanya Penghancur Sejarah

IstimewaPesta Pora Tentara Langit yang Bikin Basah dan Berkuasanya Penghancur Sejarah

Saburaya Kota media darling di Indanisua dikenal canggih dalam banyak hal. Termasuk Kota dengan wali kota yang canggih memarahi anak buahnya. Menjelang hari bertambahnya usia, kota itu mendapat kado yang meriah.

Malam itu, langit Saburaya menerjunkan bala tentara yang bikin basah. Mereka berpesta pora ke sejumlah besar kampung-kampung. Menyuplai sungai-sungai hingga penuh, meluber ke setiap ruang di rumah-rumah penduduk.

Bala tentara hujan menjadikan semuanya basah. Para penduduk yang mulai asing dengan kotanya sendiri, basah. Celana mereka basah. Baju mereka basah. Dalaman basah. Luaran juga basah.

Makam pahlawan tergenang. Rumah sakit ditabuhi kecipak-kecipuk suara kaki penunggu pasien yang sibuk menghindari sampah kintir. Mobil-mobil dan motor di jalan raya melantunkan orkestra klakson di tengah sorotan lampu kota.

Sirine berbunyi sia-sia. Ambulans tetap terjebak di antara kemacetan kendaraan. Genangan tak kunjung surut karena tentara langit yang bikin basah masih ingin bermain di bumi Saburaya. Saburaya basah. Banjir yang asing bagi seluruh penduduk kota.

Pemerintah Saburaya kelabakan. Daripada menyiapkan konsep penanggulangan banjir, lebih baik menyiapkan jawaban atas pertanyaan kenapa bisa banjir?

Pejabat kota menyebutnya salah sangka. Terjadi sedikit salah prediksi atas cuaca yang abnormal: apa salahnya kecolongan kalau prediksi mengatakan besok lusa adalah kemarau, sementara hujan di puncak pesta pora terjadi di malam ketika pemerintah kota sedang menyiapkan pesta.

“Besok itu kita pesta pora, lho. Ulang tahun kota nanti akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, lho. Ga percaya? Percaya saja!”

Begitulah. Wali kota Saburaya yang cantik juga menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan gayanya yang berputar-putar. Intinya, “banjir di daerah lain lebih parah.”

Lalu dia menyalahkan kompor yang memanaskan dunia dalam istilahnya yang asing. “Ini global warming, lho. Berat!”

Penduduk kota justru familiar dengan alasan-alasan seperti ini. Mereka tidak tergerak bertanya, kenapa saluran drainase yang hampir merata di seluruh kota, tetap saja tidak mencegah banjir. Sungai-sungai tetap saja penuh.

Belum sempat penduduk bertanya, kenapa air di sungai tidak mengalir ke laut? Mereka disodori pernyataan: laut juga penuh. Kutub utara mencair akibat pemanasan global.

“Ooh, pantesan, akhir-akhir ini sumuk.”

Lagipula, Masyarakat Saburaya sedang sibuk. Mereka sibuk berupaya menjadi tuan dan nyonya di kota mereka sendiri. Mereka belajar mawas teknologi dan melek informasi. Khususnya tentang perkembangan pesat tata kota, serta rencana-rencana besar mendatangkan orang asing ke Saburaya. Tentu, masyarakat harus bisa berbahasa asing, bukan bahasa yang bikin para tamu pening.

Mereka adalah tamu-tamu dari negara asing, gitu lho. Dari kota asing. Mereka sedang dipenuhi rasa penasaran atas budaya perkotaan di Saburaya, yang mereka dengar mengagumkan. Banyak taman. Banyak tanaman. Serta akan ada banyak wajah-wajah baru yang ingin menjadi teman. Mereka cuma tidak tahu, di Saburaya juga banyak pencabulan.

Alih-alih belajar bahasa asing. Penduduk Saburaya makin terasing di kotanya sendiri. Keterasingan yang wajar. Mereka dikenalkan pada kekhawatiran atas sebuah era, yang mana persaingan dengan warga negara asing begitu mencekam. Keberadaan mereka terancam.

aura-pahlawan-superSementara pada saat yang sama, penduduk kota Saburaya sedikit demi sedikit semakin menjauh dari akar pertanyaan tentang siapa mereka? Siapa penduduk kota Saburaya?

Tidak ada satupun dari mereka yang menolak, Kota Saburaya adalah pusat peradaban pahlawan super. Pahlawan super dari Saburaya mampu mengalahkan orang asing bersenjata otomatis, berpeluru mesiu mematikan, dengan sepucuk bambu yang diruncingkan.

Sedikit demi sedikit penduduk Kota Saburaya dijauhkan dari sejarahnya. Agar kekuatan super yang tertanam dalam gen mereka terpendam, tenggelam, tak muncul kembali ke permukaan. Sehingga dengan leluasa, orang-orang asing yang oleh ibu wali kota disebut musuh, sedikit demi sedikit bisa berteman dengan mereka. Memanfaatkan keuntungan pertemanan.

Tapi penduduk Saburaya sedikit banyak tersadar dari pingsan oleh robohnya sebuah bangunan bersejarah, berkaitan salah seorang pahlawan super utama di Saburaya. Bangunan itu rata dengan tanah. Pelakunya tokoh berduit yang punya peran besar dalam citra ekonomi Saburaya.

Tak tega pemerintah kota menghukumnya. Jadi cukup meminta pelaku bertanggungjawab sesuai kemampuan. Membangun ulang bangunan bersejarah itu. Ya, tidak mungkinlah kalau bangunan itu menjadi sangat mirip dengan asalnya.

“Pelaku sudah bersedia,” kata Wali Kota Saburaya.

Tentu semudah itu. Sebab pelakunya adalah anak yang ajaib. Teman akrab orang-orang asing. Punya peran menambah investasi di Kota Saburaya. Apalagi, dalam hitungan bulan, pelaku akan menjadi wakil kehormatan dari negara asing yang telah masuk ke Saburaya.

Penghancur sejarah akan menjadi satu diantara penguasa di Saburaya. Tak tersentuh hukum, malah menyentuh aurat modal ekonomi di semua bidang yang ditanam oleh teman-teman asingnya di Saburaya.

Penghancur sejarah itu segera menyandang mahkota konsul kehormatan Negara Princes, sebuah negara yang dikenal romantis. Dialah yang akan menjadi jembatan kepentingan negara itu dengan Pemerintah Saburaya.

Tapi, cukup banyak diantara penduduk Saburaya yang mulai sadar. Kota Pahlawan Super akan tetap dihuni oleh Pahlawan Super. Banyak dari mereka sedang merumuskan perlawanan terhadap pemerintah Kota Saburaya, juga terhadap penghancur sejarah yang segera berkuasa.

Satu diantara mereka sedang menggalang pendukung. Membuat petisi menuntut keadilan. Agar penduduk Saburaya tidak kehilangan jati dirinya sebagai keturunan Pahlawan Super. Maka dukung mereka dengan menandatangani petisi ini.

Penyusupan Komputer ke Tubuh Manusia

IstimewaPenyusupan Komputer ke Tubuh Manusia

Sebuah komputer masuk ke kepalamu, menjangkitimu dengan virus-virus semacam trojan yang membunuhmu pelan-pelan. Virus itu memenuhi otakmu dengan file-file sampah.

Kau tak tahu harus bagaimana. Kaspersky, Norton atau Smadav tak mampu menghentikannya. Virus-virus itu tak terbaca. Virus itu mengubahmu menjadi komputer. Sebuah mesin.

Virus itu membuatmu bertindak melalui kode-kode yang tak kaumengerti. Tak lagi kaurasakan sesuatu itu hangat, sesuatu itu menyedihkan. Semuanya datar dan dingin.

eraKau tak lagi menjadi pemilik waktu. Jam analog di tubuhmu telah digital, tapi bukan dirimu yang mengeset angkanya, menitnya, detiknya, alarmnya. Semua otomatis. Kau tak lagi punya kuasa.

Komputer di dalam dirimu telah mengontrolmu menjadi orang lain. Dia bahkan telah menjalar, merasuki nilai-nilai paling dasar, paling fitrah dalam dirimu. Kau tak lagi bernafsu.

Kegembiraan hilang. Semua berubah menjadi kepatuhan. Semua berubah menjadi penghambaan mutlak. Olehmu kepada para pembuat komputer. Para penyusun mesin.

Komputer itu tidak hanya mendefrag, tapi juga menginstal ulang dirimu dengan software-software asing. Bahasa lisan dan kearifan yang kaujaga selama hidup, telah berubah menjadi bahasa koding.

Kode-kode seperti yang sudah kusebut di atas, menjadikan seluruh rasa dan kompromi dalam dirimu pergi. Tak hanya sikapmu, tubuhmu pun kini kaku.

Tak ada seorangpun yang mampu menekuknya. Tak ada seorangpun yang mampu membengkokkannya. Tubuhmu tegak lurus dengan zaman. Tunduk remuk oleh teknologi. Oleh komputer. Oleh virus-virus yang turut menyusup di tubuhmu.

Virus itu hidup. Kau ingin membunuhnya. Tapi tak ada antivirusnya. Tak ada yang membuatnya. Karena hampir semua tersusupi komputer dan virusnya.

Kota besar makin mengurungmu menjadi mesin yang patuh pada setiap aturan buatan manusia. Kewajiban-kewajiban baru kautempuh tanpa kautimbang lagi konsekuensinya.

Sebuah jaringan nirkabel dengan kecepatan transfer yang masif telah mengontrol setiap orang bertindak seragam. Kau bagian di dalamnya. Kau bagian yang terkontrol jaringan peradaban.

Moralitas yang kaupunya adalah moralitas yang tak lebih baik dari manusia lain yang telah tersusupi komputer di kepalanya. Hak-hak yang seharusnya kaudapatkan, tak lagi kauinginkan. 

Maka hancurlah identitas, hancur definisi, sebuah arti tentang bagaimana menjadi diri sendiri. Jati diri telah bermetamorfosa menjadi bagian-bagian terpisah kepalsuan hidup. Puing-puing muskil untuk bersatu kembali.

Lalu kau berharap cinta datang menyelamatkanmu. Padahal definsi cinta pun telah hancur dalam tubuh komputermu. Senyum dan kehangatanmu hasil rekayasa digital. Tak ada cinta untukmu, tak juga mereka.

Komputer sudah mengakarkan serat-serat optik di hatimu. Nurani hanyalah denyar-denyar citra hologram yang menipu logikamu. Logika yang penuh file-file sampah, yang telah disusupkan komputer ke kepalamu.

Jempol diantara Telunjuk dan Jari Tengah

IstimewaJempol diantara Telunjuk dan Jari Tengah

Dia lugu. Dia nakal seperti kenakalan anak-anak sebayanya. Seperti anak-anak lainnya, dia juga sangat mudah beradaptasi dengan segala teknologi dan kemajuan peralatan.

korban pencabulanRambutnya bergelombang. Ikal di ujungnya. Matanya mungil tanpa kelopak. Hidungnya lencir, kecil. Gadis cilik itu cantik.

Usianya baru empat tahun saat itu. Saat pemuda itu mendekatinya dan mengajarkan melipat jempol di antara jari telunjuk dan jari tengah.

“Mau tahu ini artinya apa?” Kata pemuda itu kepadanya. Gadis mungil itu penasaran lalu mengangguk pelan. Pemuda itu mengajaknya ke suatu gang.

Di lain hari, gadis mungil itu pun tahu apa arti jempol dilipat diantara telunjuk dan jari tengah. Dia ketakutan. Dia mencoba lari, tapi pemuda itu berhasil menangkapnya.

Kembali mereka melakukan sesuatu di dalam gang yang sama.

Hingga suatu hari saat gadis itu sepuluh tahun lebih dewasa, dari kejauhan pemuda itu melipat jempolnya diantara telunjuk dan jari tengah, lalu mengedipkan sebelah matanya.

“Di mana?” “Biasanya.” “Biasanya di mana?” “Di sana,” kata pemuda itu menggenggam erat pergelangan sang gadis, menariknya ke sebuah kolong di antara rel kereta.

Gelap, pengap, lembab. Bau apek dan pesing meruap. Tapi kedua remaja ini tenggelam dalam makna jempol di tengah telunjuk dan jari tengah. Tak ada yang memperhatikan, tak ada yang peduli.

Itulah tempat biasa yang baru. Tubuh mereka sudah terlalu besar untuk gang sempit tempat biasa mereka yang lama. Cukup besar untuk menyembul dari tumpukan kardus, sehingga orang-orang bisa melihat keduanya.

Bisa celaka. Bisa kena marah. Bagaimanapun mereka masih punya orangtua, yang sanggup memukul mereka dengan penebah.

Pada hari-hari selanjutnya. Si gadis sering menolak. Dia sudah banyak belajar, kapan datang dan kapan pergi, kapan boleh dan kapan dilarang. Dia juga yang menjelaskan kepada pemuda bodoh itu.

Sebagai gantinya, pemuda itu juga mengajarkan hal baru. Bagaimana cara supaya tetap gembira. Tapi pemuda itu bohong. Pil yang dia berikan hanya membuat gadis itu lebih lega bernafas. Kalau tidak minum pil, dia merasakan sesak nafas.

“Ini gratis. Tapi besok-besok beli sendiri ya. Beli ke aku, tak kasih diskon, tapi setelah itu gini,” kata pemuda itu kembali melipat jempolnya diantara jari telunjuk dan tengah. “Males,” kata gadis itu, ketus.

Lain hari berikutnya, si pemuda memberikan telepon genggam. Dia bilang, sebagai hiburan di waktu senggang, dan biar gampang telpon-telponan.

Benar saja, gambar jempol di antara telunjuk dan jari tengah hampir setiap hari muncul di layar telepon milik si gadis. Berikut di laman media sosial, tempat dia mencurahkan isi hatinya.

“Di tempat biasa,” pesan pemuda itu ke halaman pesan pribadi media sosial facebook milik si gadis.

Hidupnya pun berputar di sekitar jempol diantara telunjuk dan jari tengah, serta pil yang sudah hampir setiap hari dia minum, supaya nafasnya lega. Kalau tak punya uang, ya mencari.

Semudah itu dia mencari uang. Tinggal menengadahkan tangan, uang datang berapapun jumlahnya. Setidaknya ada, untuk beli pil. Setidaknya ada, untuk berselancar di dunia maya, di warnet dekat rumahnya.

Neneknya tak menyangka, sudah sejauh itu kenakalannya. Padahal, gadis itu merasa tidak nakal. Kalau waktunya sembahyang, dia sembahyang. Kalau waktunya mengaji, dia mengaji.

Tapi memang, kalau notifikasi teleponnya berbunyi, lalu gambar jempol itu muncul… ya, dia berangkat ke tempat biasa. Kadang mencuri waktu mengaji. Atau mencuri waktu sembahyang di langgar.

“Ampun Mbah. Aku tidak tahu kalau itu enggak boleh. Sudah biasa begitu Mbah,” ujar gadis itu ketika dia akhirnya jengah.

Kemarin malam, dia sungguh sebal dengan pemuda itu. Mengajak teman-temannya yang masih percil, ke tempat biasanya. Seenaknya ikut-ikutan.

Pemuda itu dan tujuh teman-temannya yang cabul ikut nimbrung.

Dia dendam. Tapi tak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya dia mengadu kepada Mbahnya. Mbahnya marah. Mbahnya terdiam sangat lama.

Mbahnya memang tak punya apa-apa, hanya pengemis yang akhirnya diturunkan ke cucunya. Padahal sebenarnya, dia tak mau cucunya seperti dirinya.

Mbahnya juga tak mau cucunya seperti ibu kandungnya. Bekerja untuk para lelaki hidung belang.

Melalui pekerjaan itu, Mbahnya sanggup membiayai sekolah si gadis. Tapi tentu saja tidak cukup untuk membelikan telepon genggam seperti punya teman-teman si gadis.

“Buat apa. Kok sukanya ikut-ikutan. Ayo ngaji,” kata Mbahnya.

Di tengah perjalanan ke langgar, dia bertemu si pemuda. Tanpa kode dari pemuda itu, si gadis menggandengnya, mengajak pemuda itu ke tempat biasa.

Begitulah cerita hidup gadis itu dan si pemuda bodoh yang badung dan cabul. Barangkali, begitu juga cerita hidup kebanyakan remaja yang salah menyikapi teknologi.

Media sosial, gadget, semua perkembangan teknologi memang bukan biang masalahnya. Masalahnya adalah moral dan mental yang mungkin sedang surut.

Si pemuda telah tertangkap karena si Mbah melaporkan perbuatan cabulnya, juga tujuh temannya yang lain terhadap cucunya. Polisi dapat tangkapan besar, tapi tangkapan memalukan.

Apalagi, betapa malunya Wali Kota Saburaya. Meski tak punya jenggot, karena dia wanita, tapi mungkin hari itu ada sesuatu di janggutnya yang terbakar. Dia marahi anak-anak cabul itu.

Masyarakat sedang bertanya, ada apa ini? Orangtua sedang cemas: jangan-jangan salah mendidik juga. Tapi para pengembang aplikasi smartphone dan media sosial tenang-tenang saja. Ya, karena mereka sudah menjadi agen perubahan.

Lalu siapa yang salah atas fenomena jempol diantara telunjuk dan jari tengah ini?

Pelajaran Berharga dari Lantai yang Licin

IstimewaPelajaran Berharga dari Lantai yang Licin

Kini
aku adalah sejarah
Pelajaran berharga dari
lantai yang licin
dan cermin yang pecah

Lantai pualam yang kita bangun
dari potongan-potongan nyeri
yang kita obati sendiri

image

Lantai
tempat kita berjalan gontai
menduga-duga
akankah kita tergelincir
seperti masa-masa yang
sudah selesai

Atau
lantai kita itu
seperti ladang air beku
sebuah halaman tempat kita bisa
berselancar tanpa ragu

berkeliling
di bawah awan rekah
yang berarak
di antara bunga-bunga
yang merdu
diiringi kicau burung
yang wangi

Ah, inilah kita
aku dan kamu
terbolak-balik dalam makna
kadang aku adalah kamu
sekali waktu
kamu adalah aku

Mungkin itu yang membuat kita
pernah menjadi satu

Hingga di satu waktu
pada cermin di
lemari kita masing-masing
lemariku dan lemarimu
kita puas menatap wajah
gelisah

Tapi, kita lupa belajar
dari apa yang kita hadapi

Kita lupa berguru
pada cermin yang tak pernah ragu
mengatakan apa yang seharusnya
kita tahu:

soal raut muka yang payah
dahi yang berkerut resah
hingga amarah yang tumbuh
dari kacamata
retak sebelah

image

Cerminku dan cerminmu pecah
kejujuran sudah punah
dalam emosi, aku adalah
seekor babi

Babi yang buta
dalam belantara serapah
di bawah terik gagasan
tanpa logika

Lantas

Akhirnya sederhana
seperti yang kita duga
juga terjadi dalam kisah
layar kaca
Kaupergi begitu saja
sebagaimana kauhadir serupa itu
sederhana saja

Sekarang

Aku membangun sebuah lantai
dari dusta dan kebohongan
kebohongan celaka
tentang cinta yang belum usai

Kususun ulang pecahan kaca
kubangun lagi cermin lemari
memantulkan retakan wajah
seperti sebuah kota
yang baru saja tergulung badai

Barangkali
awan memang tak pernah
berisyarat pada hujan
barangkali, tak ada cara
bagi cinta untuk
menjadi sederhana

Hingga seluruh ruangan
seluruh ruang di dalam ruangan
seluruh dalam di luar ruang
dan seluruh luar
di ruangan dalam
berguncang
image

Meledak
seperti kehancuran
sebuah bintang

Namun
sebuah poros mengisap semuanya
poros yang menyatukan
apa saja di sekitarnya
poros
yang menjadikan
cermin kembali sediakala
cermin tak sempurna
tapi
menampakkan segalanya

Terima kasih untukmu
Syailendra Darmawan
atas kesempatan
tak berulang

Aku hanyalah sejarah
pelajaran berharga dari
lantai yang licin
dan cermin yang pecah

Cinta Seperti Menghindari Jalan Berlubang

Cinta Seperti Menghindari Jalan Berlubang

Cukup sudah topik yang berat-berat. Kita kembali pada topik yang sederhana, santai, yang sendu, yang rindu, yang syahdu: Cinta.

Cinta itu sederhana. Seperti menghindari lubang di jalan raya. Tidak terburu-buru, tetap waspada, tapi tidak terlalu tegang.

Menghindari jalan berlubang berarti perlu mengenali kontur tanah. Apakah itu bergelombang, mulus tapi penuh kejutan (baca: berlubang tapi kecil-kecil), atau penuh guncangan. Continue reading “Cinta Seperti Menghindari Jalan Berlubang”

Orang-Orang Organisasi Terlarang yang Baru Pulang ke Kampung Halaman

Orang-Orang Organisasi Terlarang yang Baru Pulang ke Kampung Halaman

Saya membayangkan bagaimana menjadi mereka. Menjadi orang-orang cemas yang baru saja ditarik mundur dari mimpi yang hampir terwujud.

Orang-orang Gibraltar. Sebuah organisasi yang menurut pemerintah Indanisua sesat dan menyesatkan. Mereka baru tiba di Bandara Jianda Kota Saburaya ketika saya menulis tulisan ini.

Saya membayangkan apa yang mereka pikirkan saat menginjakkan kaki setelah terbang beberapa jam di bandara yang pernah mereka singgahi.

Sebagian dari mereka berangkat dari bandara itu. Sebagian lainnya mungkin berangkat dari bandara lain di kota selain Saburaya. Kota saya berada. Kotanya para Pejuang. Continue reading “Orang-Orang Organisasi Terlarang yang Baru Pulang ke Kampung Halaman”

Nikah, Pascahujan Teror dan Organisasi Terlarang, di Musim Hujan, di Kota Saburaya

Nikah, Pascahujan Teror dan Organisasi Terlarang, di Musim Hujan, di Kota Saburaya

Kami meluncur di atas jalan yang basah. Hujan baru saja turun beberapa menit lalu. Atau sejam yang lalu? Saya tidak yakin. Saya hanya yakin hujan telah turun dan membasahi jalan.

Beberapa waktu sebelum saya meluncur bersamanya di atas jalan basah, sebelum saya yakin jalan sedang basah karena hujan yang turun entah kapan, saya tidur saat bekerja.

 

Kami meluncur bersama di atas jalan basah setelah pulang bekerja. Kami lelah. Mungkin dia kelelahan. Sedangkan saya hanya berpura-pura lelah.

Pekerjaan, beberapa hari terakhir ini memang melelahkan. Maksud saya, saya lelah dengan pekerjaan. Pekerjaan yang itu-itu saja, orang yang itu-itu saja, saya yang ini-ini saja.

Saya lelah. Mungkin bukan karena apa yang saya kerjakan, tapi karena apa yang saya pikirkan. Saya lelah berpikir yang bukan-bukan.

Namun saya tidak yakin semua pikiran saya selama ini adalah pikiran yang bukan-bukan.

“Saya berpikir maka saya ada.” Pret! Saya ada sebelum saya sempat belajar berpikir benar.

Saya ada di dunia begitu saja, diadakan oleh Tuhan, ditempatkan di negara Indanisua.

Di negara inilah kami masih meluncur di atas jalan basah, sepulang kerja, dia kelelahan, saya pura-pura lelah, dan saya benar-benar lelah dengan pikiran saya yang mungkin pikiran yang bukan-bukan.

Indanisua memang sedang musim hujan. Beberapa hari terakhir hujan. Tadi hujan, kemarin hujan. Saya kehujanan. Orang-orang kehujanan.

Bukan hanya hujan yang bikin basah jalan, juga hujan yang bikin basah pipi banyak orang. Orang-orang berpipi basah saat hujan teror di Kota Jekarte, Ibukota Indanisua.

Ada bom di sana. Ada orang yang meledak. Ada mayat di jalan. Ada orang-orang bersenjata. Ada polisi yang kena tembak di sebuah foto di media. Ada Kepala Polisi yang tidak mau dibilang lengah. Ada salah hitung tukang teror yang mati.

Saya sering berpikir, mungkin pikiran saya yang memang bukan-bukan. Tentang banyak hal. Tentang Tuhan, tentang saya, tentang dunia, tentang cara hidup di dunia, tentang menjadi manusia.

Semua manusia mungkin pernah berpikir seperti saya. Atau hanya saya saja yang berpikir begini dan mereka begitu. Atau masing-masing memang berbeda. Karena itu, pikiran para tukang teror itu tentu berbeda-beda. Entah apa. Saya masih bertanya-tanya.

image

Saat bom meledak, di Jekarte tidak hujan. Tapi hujan membasahi pipi para pemirsa yang duduk di depan televisi di masing-masing rumahnya. Atau mungkin tidak? Saya tidak tahu. Ini mungkin cuma pikiran saya yang bukan-bukan.

Saya yang hidup di Kota Saburaya melihat semua itu sebagai pekerjaan. Saya menyulih peristiwa itu lalu memuatnya dalam bentuk berita. Saat itu pipi saya memang tidak basah.

Barangkali orang-orang berpipi basah akibat hujan teror itu hanya ada dalam pikiran saya yang bukan-bukan. Karena saya tidak bisa memastikan apakah hanya keluarga korban jiwa yang pipinya basah atau seluruh keluarga dalam rumah tangga Indanisua juga pipinya basah.

Saya sibuk menulisnya. Ternyata orang-orang juga sibuk menulisnya. Saya menulis karena pekerjaan saya. Mereka menulis, mungkin, supaya terkesan pipinya basah. Reaksi tentang hujan teror berkelindan di halaman-halaman media sosial mereka masing-masing, yang tersiar tanpa selia.

Saya menulis dengan selia. Ada penyelia di dekat saya. Tapi selia mungkin sudah tidak perlu ada dalam setiap informasi di Indanisua. Karena yang dibutuhkan hanya kecepatan dengan harapan semoga saja tepat.

Lihatlah bagaimana saya berpikir yang bukan-bukan dalam tulisan saya. Padahal saya hanya ingin bercerita bahwa kami—semalam sebelum tulisan ini saya muat di sini—masih meluncur di atas jalan yang basah, di musim hujan, di Kota Saburaya, Indanisua.

Kami meluncur dengan sepeda motor masing-masing. Kadang berdampingan, kadang bersalip-salipan. Kami gembira dalam diam. Tapi kami kami sadari, masing-masing dari kami mengalami kecemasan yang mendalam.

Saya dan dia akan menikah. Kami akan menikah setelah hujan teror beberapa waktu lalu di Jekarte, juga kejadian-kejadian di sekitar kami di Saburaya.

Siang sebelum kami pulang bekerja dalam keadaan lelah (saya hanya berpura-pura lelah), pemerintah Saburaya diributkan oleh rencana kepulangan puluhan orang yang bergabung dengan organisasi terlarang.

Pemerintah Indanisua pernah melarang organisasi bernama Gibraltar ini berkembang. Tapi pemerintah juga yang baru-baru ini lupa pernah melarangnya.

Pelarangan atau pembolehan di Indanisua sepertinya memang mudah dilupakan. Seperti juga aturan-aturan, yang pernah dibuat tapi lupa diterapkan. Mungkin karena tertindih oleh aturan-aturan baru yang banyaknya seperti bulir hujan.

Saya hidup dan bekerja di antara kondisi yang demikian. Jangan kasihani saya, karena Anda yang merasa hidup di negara yang mirip dengan Indanisua, juga kasihan.

Lebih kasihan lagi, kalau sampai Anda terlibat dalam organisasi-organisasi yang pernah dilarang oleh pemerintah, tapi pemerintah lupa, pernah melarangnya. Melarangnya karena apa?

Tentu Anda akan tersia-sia. Tak diterima di sana, tak diterima di sini. Anda tak diterima di mana-mana, hanya karena ada larangan yang sudah terlupakan oleh yang mengeluarkan larangan itu sendiri.

Sebab itu, untuk memastikan larangan itu tidak keliru, menteri yang bertanggungjawab mengenai persoalan di dalam negara memerintahkan anak buahnya menengok kembali ke dalam lembaran-lembaran sejarah: Apa benar organisasi Gilbraltar ini pernah dilarang di masa lalu?

“Aku ada maka aku berpikir.” Ndasmu! Kamu pikir berpikir itu tidak melelahkan?

Pemerintah Indanisua akhirnya memutuskan memulangkan mereka, para pengikut organisasi terlarang itu, dari Pulau Lalimangan, dan akan menampung serta memberikan rehabilitasi agar mereka bisa kembali melanjutkan hidupnya di tanah kelahiran masing-masing.

Kota Saburaya menjadi pemasok terbesar pengikut organisasi ini. Para pengikut warga Saburaya diam-diam bergiliran berangkat ke Pulau Lalimangan sampai jumlahnya hampir seratus orang.

“1.500 orang pengikut Gilbraltar akan dipulangkan dan ditampung di Provinsi Jiwa Tengah. Lalu bagaimana dengan komunitas Syiah di Kabupaten Simpang Kepulauan Mudara yang diasingkan dari tanah tempat tinggalnya sendiri?”

Begitu pertanyaan seorang sastrawan sekaligus budayawan Indanisua. Pikiran saya yang bukan-bukan melanglang juga ke sana sebelum saya baca tulisannya itu di halaman sosial medianya.

Komunitas syiah di Simpang, Mudara juga dilarang. Yang melarang bukan negara, tapi orang-orang di sekitar mereka.

Karena itu pemerintah tidak lupa, atau berpura-pura lupa, bahwa memang tidak ada larangan bagi komunitas tersebut. Tapi pemerintah lupa mengembalikan mereka ke tanah kelahirannya.

Titik. Saya tidak berpikir lagi. Saya akan menikah dengan dia. Dia akan menikah dengan saya. Kami sudah mengurus semua persyaratan menikah yang disyaratkan oleh Kantor Urusan Agama, yang tidak berwenang mengurus masalah-masalah agama selain pernikahan.

Syiah itu hanya berbeda pemikiran dalam hal agama, barangkali demikian halnya dengan Gilbraltar. Tapi urusan itu bukan urusan Kantor Urusan Agama. Urusan orang-orang di kantor itu hanya pernikahan.

Pegawainya hanya mengurusi orang-orang yang akan menikah. Pegawai itu mengurusi mereka dengan gratis kalau mereka datang ke kantor. Tapi tidak gratis kalau pegawai kantor itu yang harus keluar dari kantor.

Pemerintah Indanisua telah menetapkan biaya. Kalau sampai orang-orang di kantor itu dipanggil keluar dari kantornya, orang yang memanggil harus membayar 600 ribu Rapiah.

Tapi kemarin, calon ibu mertua saya membayar 900 ribu Rapiah kepada pegawai Kantor Urusan Agama di kotanya. Ternyata, calon ibu mertua saya dan orang itu masih bersaudara dekat. Entah, yang 300 ribu Rapiah untuk siapa.

Inilah Indanisua, yang seharusnya dekat seperti saudara rasanya jauh, yang jauh seperti Saburaya dan Jekarte rasanya dekat. Yang pertama karena uang, yang kedua karena hujan teror yang terjadi di Jekarte sebelum saya menikah.

Harapan saya tentang orang-orang Indanisua berpipi basah saat terjadi teror bukanlah pikiran yang bukan-bukan. Pipi mereka basah karena menangis, itu harapan saya. Tangis karena peristiwa itu terasa sakit, meski tidak mengalaminya secara langsung.

Saya juga berharap, nanti, saat para pengikut Gibraltar tiba di Saburaya, pipi orang-orang juga basah kemudian memaafkan mereka, karena mereka bagian dari keluarga rumah tangga Indanisua.

Mereka juga, saya harapkan, sambil masih berpipi basah, mengingat para pengikut Syiah di Simpang, Mudara, lalu memaafkan mereka, sembari mengupayakan agar mereka bisa kembali menikmati hidup di tanah kelahiran mereka.

Lalu saya akan menikah pertengahan bulan depan. Pertengahan Februari yang akan datang. Saya akan menikah dengan dia, dengan hati yang senang. Dengan pikiran yang tidak bukan-bukan untuk membangun bahtera keluarga yang tenteram.

Akhirnya kami sampai di tempat tinggalnya. Kami duduk di beranda rumah tinggalnya lalu berbincang dalam diam.

Dia mengerti saya, saya mengerti dia. Kami saling menenangkan, saling bersenyuman, lalu saya pulang dengan perasaan yang lebih tenteram.

Salam.